Beranda > Artikel > Penyakit Para Penulis dan Obatnya

Penyakit Para Penulis dan Obatnya

Setiap orang pasti berkeinginan untuk selalu sehat. Tidak ada seorang pun berkeinginan menderita sakit. Sungguh penyakit itu harus dilenyapkan, dienyahkan, dan dijauhkan sejauh-jauhnya dari diri kita. Lalu, demi usaha itu, kita pun mengenal beragam cara mencegah penyakit: olah raga, istirahat teratur, makan makanan bernutrisi, dan silaturahmi. Pada akhirnya, penyakit pun jarang hinggap dan kerasa di tubuh kita. Alhamdulillah…..

Namun, penyakit itu pun bisa datang kapan saja dan bagaimana pun caranya. Lalu, kita dibuat pusing yang luar biasa. Terlebih, penyakit itu datang tepat di saat kita harus menyelesaikan sebuah tugas. Di situlah, kita merasakan penderitaan yang hebat. Tidur tak nyenyak, makan tak enak, dan beragam pikiran muncul di benak. Dan itu lebih terasa sakit bagi seorang penulis. Maka, alangkah baiknya kita mengenal penyakit para penulis dan cara mengobatinya.

Menurut saya, seorang penulis berpotensi mengidap lima jenis penyakit. Kelima jenis penyakit itu adalah kejenuhan, malas, mati ide, kebuntuan bahasa, dan deadline. Mari kita bahas dan mencari solusinya.

Pertama, penyakit kejenuhan. Penyakit ini adalah jenis penyakit yang paling sering diderita penulis. Kejenuhan karena situasi lingkungan kerja yang serba membosankan. Anda tentu dapat membayangkan kejenuhan itu. Sehari-hari penulis hanya menghadapi laptop dan laptop. Tidak ada satu pun benda yang menjadi penghibur. Sementara itu, pikiran terus bergelayut untuk diajak mengeluarkan ide-ide baru. Maka, kejenuhan memang menjadi penyakit paling mematikan bagi seorang penulis. Lalu, bagaimanakah mengobatinya?

Jika mengalami kejenuhan, saya menghentikan aktivitas. Saya melakukan aktivitas lain yang berbeda dengan menulis. Saya menonton televise, menimang anak, membaca buku, atau bermain game. Intinya, saya berusaha agar kejenuhan itu hilang. Jika cara itu belum dapat mengobatinya, saya pun tidur. Dan ini adalah cara paling mujarab dan ampuh. Begitu terbangun, pikiran pun menjadi segar kembali. Dan semangat pun tumbuh berkobar untuk menyelesaikan beragam pekerjaan.

Kedua, penyakit malas. Penyakit ini pun menjadi penyakit paling berbahaya. Seorang penulis tidak boleh bermalasan. Penulis itu harus rajin dan tekun. Jika bermalasan, tentu itu akan berpengaruh terhadap tulisannya. Karena itu, malas harus dijauhi. Jika malas hinggap, penderitanya harus segera mencari obatnya.

Jika malas hinggap di pikiran, saya sudah menyiapkan strategi jitu. Biasanya saya keluar dari kamar kerja. Saya pun mengeluarkan motor atau sepeda angin. Lalu, saya memacu kendaraan itu menuju warung selatan rumah. Saya memesan kopi susu. Sambil menikmati hidangan, saya mendapat hiburan. Saya bercengkerama dengan rekan-rekan. Begitu dirasa semangat menulis sudah tumbuh, saya pun pulang. Dan benar. Pikiranku menjadi segar kembali.

Ketiga, mati ide. Seorang penulis harus kaya dan memperkaya ide. Seorang penulis harus berkemampuan untuk menginovasi dan melahirkan ide-ide baru. Penulis yang baik tidak boleh terpengaruh oleh situasi pasar. Semisal begini. buku si A menjadi best seller. Lalu, kita pun memaksakan diri untuk menulis buku sejenis. Karena berbeda disiplin ilmu, tentu saya penulis akan mengalami kebuntuan ide. Penulis itu terlalu memaksakan idenya. Alangkah baiknya jika penulis itu bertahan dan mempertahankan jati dirinya.

Secara pribadi, saya pun berusaha konsisten sebagai penulis buku-buku sekolah dan motivasi. Saya tidak berani menulis buku-buku fiksi (cerpen atau novel). Saya tidak berkemampuan untuk menulis buku-buku fiksi. Secara keilmuan, saya hanya menguasai kepenulisan tentang keterampilan berbahasa dan motivasi. Jadi, selama ini, saya pun lancar-lancar saja dan belum pernah mengalami mati ide.

Namun, saya mempunyai saran jika Anda mengalami mati ide. Silakan Anda berkomunikasi dengan pakar atau editor. Itu lebih baik agar ide terus mengalir. Dengan sering berkomunikasi dengan pakar dan ilmuwan, naskah buku itu akan berkesesuaian dengan kehendak Anda.

Keempat, kebuntuan bahasa. Setiap penulis mempunyai kemampuan berbahasa yang berbeda-beda. Ada kalanya lancer, tetapi sering pula terhambat alias macet. Ketika semua berjalan lancar, tak terasa naskah setebal 100 halaman terselesaikan dalam sebulan. Namun, ada kalanya terjadi juga. Naskah setebal 60 halaman tetapi tak terselesaikan meskipun sudah sebulan lebih.

Jika Anda mengalami situasi demikian, saya mempunyai resep manjur. Ketika mengalami kondisi itu, saya membaca ulang kerangka karangan atau mind set. Dengan membaca ulang kerangka buku, saya dapat mengetahui bagian-bagian buku yang belum tersentuh. Jadi, kita dapat mengalami kebuntuan ide di satu bab, tetapi kita akan memperoleh kemudahan di bab lainnya. Kita tidak perlu risau dengan kondisi itu.

Kelima, deadline. Ini adalah penyakit yang mematikan. Batas akhir pengiriman naskah sudah berada di depan mata. Namun, naskah belum terselesaikan juga. Tentu saja pikiran pusing dan semuanya terlihat kacau. Nah, kondisi akan menjadi semakin parah jika Anda memaksakan diri untuk menulis. Tulisan Anda akan berubah total, baik mutu maupun karakternya. Lalu, bagaimanakah mengobatinya?

Jika mengalami kondisi itu, saya menghubungi editor. Saya menyampaikan beragam hambatan yang saya alami. Saya mencoba menerangkan kondisi psikologis sejujur-jujurnya. Mungkin tugas kuliah, anak-anak sedang sakit, kesulitan referensi dan lain-lain. Alhamdulillah, editor dapat memaklumi kondisi itu. Dan saya pun berjanji untuk menyelesaikan naskah itu dalam rentang waktu tertentu. Jadi, saya tidak menipu.

Begitulah sahabat. Semua tulisan itu berasal dari pengalaman ketika saya berhadapan dengan beragam jenis penyakit itu. Semoga obat-obat yang saya tawarkan dapat menyembuhkan penyakit Anda jika memang Anda menderitanya. Amin. Terima kasih.

by; [johan wahyudi, Kompasiana]

Kategori:Artikel
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: